Back

Mengenal Pendiri Al-Jam’iyatul Washliyah

Al-Jam’iyatul Washliyah, disingkat dengan nama Al-Washliyah merupakan organisasi kemasyarakatan Islam yang memiliki tujuan untuk mendekatkan Indonesia dengan cara mempersatukan umat. Al-Washliyah sendiri memiliki makna “menghubungkan”, yaitu menyatukan kembali anak bangsa, yang saat itu telah terpecah belah akibat politik penjajah (devide et impera). Hal tersebut memunculkan tokoh dan pendiri organisasi Al-Washliyah yang visioner dan brilian. 

Tokoh dan pendiri organisasi Al-Washliyah berasal dari kalangan pelajar dan pengasuh Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) Medan, Sumatera Utara. Tokoh-tokoh tersebut antara lain Tuan Syekh Abdurrahman Syihab, Tuan Syekh Ismail Banda, Tuan Syekh H. M. Arsyad Thalib Lubis, Yusuf Ahmad Lubis, dan Adnan Nur Lubis. Sementara nama Al-Jam’iyatul Washliyah sendiri diberikan oleh seorang ulama besar di Sumatera Utara yang bernama Tuan Syekh H. Muhammad Yunus.

Berikut merupakan tokoh penting pendiri organisasi Al-Washliyah.

  1. Tuan Syekh H. Abdurrahman Syihab (1910-1955)

H. Abdurrahman Syihab lahir pada tahun 1910 di Kampung Paku, Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Beliau merupakan anak ketiga dari H. Syihabuddin, Kadhi Kerajaan Serdang di Kampung Paku. Beliau merupakan orang pertama yang mendirikan Madrasah Al-Washliyah dengan waktu belajar sore hari di Jalan Sinagar Petisah, Medan pada tahun 1932. 

Abdurrahman Syihab adalah salah satu pendiri Al-Jam’iyatul Washliyah, dan terus terpilih menjadi pimpinan organisasi sampai akhir hayatnya. Beliau menjadi anggota PB Majelis Tinggi Sumatera, Ketua Pimpinan Daerah Majelis Islam Tinggi Sumatera Timur, Wakil Ketua Masyumi Sumatera, Ketua Komite Aksi Pemilihan Umum (KAPU), dan anggota pengurus Folks Front (persatuan Perjuangan Sumatera) pada rentang waktu 1945-1946.

Pada tahun 1941, Abdurrahman Syihab mewakili PB Al-Washliyah ke Kongres Muslimin Indonesia di Solo, Jawa Tengah. Beliau diangkat sebagai Ketua Masyumi Pusat di Jakarta pada Kongres Masyumi ke-6 tahun 1954. Pada 1947, beliau diangkat menjadi anggota KNIP, lalu anggota Penasehat PPNKST, dan anggota parlemen pada tahun 1954. 

Pada akhir 1954 ketia beliau tengah bertugas sebagai anggota parlemen di Jakarta, Abdurrahman Syihab terserang penyakit dan diharuskan berisitirahat untuk pemulihan. Beliau kembali ke Medan untuk dirawat di RS Umum Kota Medan. Beliau berpulang ke Rahmatullah pada hari Senin, 7 Februari 1955 pada usia 45 tahun setelah sekitar satu setengah bulan dirawat di rumah sakit tersebut.

Abdurrahman Syibah meninggalkan seorang istri dan 10 orang anak (lima orang anak laki-laki dan lima orang anak perempuan) saat beiau meninggal dunia. Kepergian beliau bukan hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi turut dirasakan oleh seluruh pergerakan dan organisasi Islam, serta masyarakat umum lainnya. 

  1. Tuan Syekh H. Ismail Banda (1909-1951)

H. Ismail Banda lahir di Kota Medan, Sumatera Utara pada 21 April 1909. Beliau merupakan anak dari pasangan Banda dan Sariani Aminah. Beliau bermukim di Kampung Sei Mati, Medan, Sumatera Utara kemudian berpindah ke Petisah, Kota Medan. 

Ismail Banda merupakan tokoh penting dalam perjalanan sejarah organisasi Al-Jam’iyatul Washliyah. Beliau merupakan ketua pertama organisasi ini. Pada tahun 1930, Ismail Banda mendirikan Al-Jam’iyatul Washliyah. Ini merupakan bukti sejarah perjuangannya untuk NKRI sekaligus warisan terhadap penerus kader Al-Washliyah.

Ismail Banda pernah menimba ilmu selama 5 tahun di Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) di bawah bimbingan Syekh Muhammad Yunus dan beberapa guru lainnya. Bersama rekan-rekannya, Ismail Banda membentuk kelompok diskusi yang dikenal dengan sebutan Debating Club. Beliau menjadi penasihat kelompok diskusi yang diketuai oleh Abdurrahman Syihab ini. Mereka sepakat membentuk perhimpunan yang bertujuan untuk memajukan, mementingkan, dan menyebarluaskan ajaran agama Islam. Perhimpunan tersebut akhirnya diberi nama Al-Jam’iyatul Washliyah, yang artinya perhimpunan yang menghubungkan dan mempertalikan.

Ismail Banda wafat dalam suatu kecelakaan pesawat di Taheran, Iran pada 22 Desember 1951. Beliau gugur ketika sedang menjalankan tugas negara sebagai kuasa usaha (perwakilan) negara Indonesia di Afganistan. Pesawat yang membawa tokoh Al-Washliyah bersama sejumlah pejabat pentig bangsa lainnya dihantam badai topan dan dahsyat di Taheran, Iran. 

  1. Tuan Syekh H. M. Arsyad Thalib Lubis (1908-1972)

H. M. Aryad Thalib Lubis merupakan seorang ulama, mubaligh, dan perjuang di Sumatera Utara yang lahir pada Oktober 1908 di Stabat, Langkat, Sumatera Utara. Beliau merupakan putra kelima dari pasangan Lebai Thalib bin H. Ibrahim Lubis dan Markoyom Nasution. Ayahnya berasal dari Kampung Pastap, Kotanopan, Tapanuli Selatan, kemudia menetap di Stabat, Sumatera Utara sebagai petani yang agamis sehingga mendapat panggilan lebai, yakni panggilan kehormatan di daerahnya atas ilmu agama yang dimilikinya. 

Semasa hidupnya, H. M. Arsyad Thalib Lubis aktif mengajar di beberapa Madrasah Al-Washliyah di Aceh dan Medan pada tahun 1926-1957. Beliau menjadi Lector pada Sekolah Persiapan Perguruan Tinggi Islam di Medan (1953-1954), Guru Besar Ilmu Fiqh dan Usul Fiqh di Universitas Islam Sumatera Utara-UISU (1954-1957) dan dosen tetap Universitas Al-Washliyah (YNIVA) sejak universitas tersebut didirikan (1958) hingga akhir hayatnya. 

H. M. Arsyad Thalib Lubis merupakan salah satu pendiri organisasi Al-Jam’iyatul Washliyah. Sejak organisasi ini berdiri pada 30 November 1930 M atau bertepatan pada 9 rajab 1349 H, beliau turut menjadi anggota PB Al-Washliyah hingga tahun 1956.

Pada hari Kamis, 6 Juli 1972 M yang bertepatan pada tanggal 23 Jumadil Awal 1392H, H. M. Aryad Thalib Lubis menghembuskan napas terakhirnya di RS Umum Pirngadi, Medan pada usia 63 tahun.